- Home>
- becekkali , cerita sex , mekibecek , memekbecek , video sex >
- Video + Cerita Sex NGENTOT MEMEK ADIK KANDUNG TOKET BESAR DAN MONTOK
Sabtu, 03 April 2021
INIDEWA - kebiasaan teman-temanku setiap jam istirahat adalah menggoda cewek-cewek dan menilai keseksian tiap cewek siswa-siswi SMU di sekolah kita, pulang sekolah pukul 14.00 tiap harinya, sementara siswa-siswi SMP sudah mengakhiri pelajaran pada pukul 12.00, bertepatan dengan jam istirahat kita.
Setiap saat itulah, teman-temanku berdiri bersandar di balkon dan menonton siswa-siswi SMP sekolah kita yg sedang berjalan pulang sekolah. Seringkali mereka mengomentari siswi-siswi mana yang sexy, imut atau cantik, dan terutama yg menurut mereka memiliki tubuh yg seksi. Beberapa temanku bahkan sering bersiul pada mereka, atau menggoda mereka, cuma untuk menarik perhatian salah satu dari cewek-cewek SMP yg cantik-cantik itu. Hari ini pun begitu, sementara aku duduk di bangku panjang sambil mendengarkan iPod ku.
“Dit! Dit! Stevanny tuh!”
Nah, di antara semua cewek SMP yg lain, ada satu cewek yg paling menarik perhatian hampir semua temanku (dan sepertinya hampir semua cowok di SMA dan SMP, dan mungkin bahkan beberapa bapak guru). Cewek itu adalah Stevany, adik perempuanku. Stevany 4 tahun lebih muda dariku, dia duduk di kelas 2 SMP.
Sebenarnya Stevanny sama seperti cewek-cewek yg lain, dengan tinggi badan 155 cm dan berat 46 kg, Stevanny tergolong kecil mungil, tidak tinggi semampai. Rambutnya yg hitam pun cuma dipotong pendek sebatas leher. Memang wajahnya sangat imut dan kulitnya pun putih mulus dan lembut, tapi bukan itu yg membuat teman-temanku tergila-gila padanya.
“Duh gilak tuh anak cute banget sih!!”
“Sexy banget, maksud lu..!?”
Yap… Kontras dengan wajahnya yg sangat imut seperti anak kecil, Stevanny bisa dibilang sangat sexy. Alasan utamanya—dan aku yakin toketnya inilah yg selalu dilihat oleh hampir semua cowok Stevanny memiliki dada berukuran 34 C, yg termasuk susu yg sangat besar untuk anak seusianya. Bentuk toketnya pun sangat bulat, sexy dan penuh.
“Duh gue ngaceng… Gede banget gilak…”
“Hus! Ada kakaknya tuh.. Ntar lu dibunuh… Hahaha”
Tiba-tiba teman-temanku ber “Oooh…!!” seru. Aku melongok ke arah lantai dasar, mencari tahu penyebab “Ooh..!!” tiba-tiba itu. Pantas, pikirku. Stevanny sedang berlari berkejar-kejaran dengan beberapa cewek lain. Aku tahu apa yg diperhatikan oleh teman-temanku: dada Stevanny yg berguncang-guncang menggiurkan saat ia berlari. Aku melirik ke arah teman-temanku, dan aku dapat melihat tonjolan-tonjolan tegang di bagian tengah celana panjang mereka.
“Heh! Udah! Adek gue bukan tontonan!” ujarku. Teman-temanku menoleh.
“Yee… Salahnya adek lu punya badan kayak gitu..” kata Martin, salah satu temanku.
“Toket kayak gitu, lebih tepatnya,” kata yg lain.
“Ah, udalah! Nyebelin…” kataku gusar. Aku berdiri dan berjalan pergi, meninggalkan teman-temanku yg menatapku gelisah.
Sebenarnya hal ini sudah membuatku gelisah beberapa waktu belakangan ini. Sejak adikku kelas 6 SD, entah kenapa seolah-olah dadanya seperti dipompa; pertumbuhannya pesat sekali! Hampir setiap pergantian semester, adikku ini mengeluh bra-nya sudah kesempitan, dan ternyata ukurannya sudah bertambah besar lagi. Di saat teman-teman seusianya masih belum mengenakan bra, Stevanny sudah mulai memilih bra mana yg harus dikenakannya, dan saat teman-temannya mulai merasakan pertumbuhan di dada mereka, payudara Stevanny bahkan sudah jauh lebih besar dari milik mamah ku.
Dan, yg paling membuatku khawatir, adalah kenyataan bahwa bagaimana pun, aku juga seorang cowok normal, yg juga bisa terangsang bila melihat sepasang dada yg bulat dan sangat besar seperti miliknya. Bahkan sudah beberapa lama ini aku menahan godaan untuk tidak melakukan sesuatu yg tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang kakak pada adiknya
“Kaak… Deek… Turun sini!! Udah mulai nih upacaranya!”
“Iyaa… Bentar aku turun!!”
Ayahku memanggil. Beliau dan mamah ku sedang menonton upacara pembukaan Euro di ruang keluarga. Ayahku memang sangat menggemari sepak bola, begitu pula dengan aku dan Stevanny. cuma mamah ku yg tidak terlalu suka sepak bola, tapi krn dikeroyok 3 orang penggemar bola di rumah, akhirnya ibu menyerah dan ikut menonton. Toh, beliau ikut senang melihat upacara pembukaan yg meriah.
“Heeii bagus loh ini!!” suara mamah ku yg memanggil kali ini.
“Yaya bentaarr!!! Nanggung!!” aku berteriak.
“Ngapain sih, kamu?”
Aku tak menjawab. Aku sedang melihat foto-foto liburan keluargaku yg terakhir ke Bali. Well, sebenarnya cuma foto Stevanny yg kulihat… Sudah beberapa minggu—mungkin beberapa bulan—terakhir ini aku sering menghabiskan malamku memelototi foto-foto Stevanny di komputerku. Makan apa sih kamu, aku sering berpikir begitu. Koq bisa jadi segede itu…
Aku sampai ke foto-foto kita di pantai… Stevanny mengenakan tank-top putih dan kain sarung Bali di foto itu.
Aku menekan tombol ‘next’, foto berikutnya. Stevanny sedang bermain air di pantai. Tank-topnya basah, samar-samar memperlihatkan bikininya yg berwarna biru muda, tampak kesulitan menahan dadanya yg besar. Celanaku mulai menyempit di bagian selangkangan.
‘Next’ lagi… Oh, ini video, batinku. Masih Stevanny yg bermain air. Tapi kali ini ia berlari kecil. Mataku terpaku pada dadanya yg berguncang-guncang. Sangat menggiurkan. Aku merasakan tonjolan di celanaku semakin membesar. Aku merogohkan tanganku ke dalam celana, dan perlahan mulai mengocok kontol ku yg sangat tegang.
Aku memejamkan mata, pikiranku mulai melayang…
“Heh! Kakak liat apa tuh sampe melotot gitu?!”
Aku melonjak kaget di kursiku. Astaga! Aku lupa mengunci pintu tembusan antara kamarku dan kamarnya! Stevanny berjalan mendekat. Cepat-cepat aku menarik tanganku keluar dari celana. Tapi aku tak tahu bagaimana menyembunyikan tonjolan besar dari balik celanaku ini! Stevanny sudah membungkuk di belakangku.
“Eeh… Nggak koq… Ini lagi ngeliat foto-video waktu kita ke Bali terakhir…” kataku gugup. Aku buru-buru menarik bantal kecil di ranjangku untuk menutupi selangkanganku.
“Hoo… Hm? Koq isinya fotoku semua?” katanya sambil menekan-nekan tombol next-next-next-next… Memang foto-fotonya sudah aku kelompokkan kedalam satu folder sendiri.
“Eeh? Eh… Mm… Biar gampang milihnya kakak kelompokin ke dalem satu folder gitu…”
Jantungku berdegup-degup kencang.
“Ooo… Yaya…” aku merasakan ada nada keraguan dibalik suaranya, “Yuk turun.. Udah mulai tuh! Lucu loh ada sapi-sapi segala!”
“Oke oke.. Yuk…”
Aku mematikan komputerku. Stevanny menggamit lenganku saat kita berjalan keluar kamar dan turun ke bawah. kita duduk bersebelahan.
“Kak,” tiba-tiba dia berbisik. Sangat pelan.
“Hm?”
“Kakak ngaceng ya tadi waktu ngeliat fotoku? Dosa loh kaak… Hihihi…” bisiknya.
“HAH?! Eh… Ng… Nggak koq!” ujarku gelagapan.
“Aku liat koq kak tadi…” bisik Stevanny. Senyum jahil melintas di wajahnya yg imut.
“Eh…”
“Bilang mama aahh…” senyumnya semakin jahil.
“Ehh! Eh jangan Van!” bisikku panik.
“Hehehe nggak dehh…”
kita terdiam… Tomas Ujfalusi dan Alexander Frei, kapten Swiss dan Ceko, berjalan memasuki lapangan. Pertandingan segera dimulai.
“Kak,” bisiknya lagi.
“Ya?”
“Punya kakak gede banget…”
Cepat-cepat aku menarik bantal.
“Kak, bangun! Udah mau kick off tuh!”
“Mmm…”
“Aaa… Kak! Luca Toni tuh! Gattuso! Pirlo! Aaa… Buffon Kak!”
“Mmm….”
“Kaakk… BaanguuUnn…”
Pagi itu kita menonton di kamarku. Stevanny memang pendukung setia Italia, sedangkan aku pendukung baru Belanda. Sebenarnya aku pendukung setia timnas Inggris, tapi sayang sekali Inggris tidak lolos tahun ini, jadi aku beralih mendukung Belanda. Aku dengar tahun ini pelatih Van Basten membawa kejutan dalam timnas Oranye.
“KAAK! Udah kick off!!! Kak…. Kaaakkk.. Bangguunn..!!! Iih nyebelin!!” Stevanny habis kesabaran, mengguncang-guncangku hingga terbangun.
“Eeehhh… Eh… Ehh… Iya iya iya udah bangun ini!!” kataku mengantuk. Stevanny terus mengguncang-guncang badanku, tidak mempedulikan protesku. Tapi pemandangan yg aku lihat setelah itu benar-benar membuatku tidak mengantuk sama sekali.
Stevanny rupanya telah duduk mengangkang di atas perutku. Baju tidurnya yg putih-pink terlihat tipis sekali dini hari itu. Dadanya yg besar menggelayut, dan samar-samar aku melihat 2 tonjolan kecil di masing-masing ujungnya. Stevanny nggak pake bra?
“Bangun,” ulangnya, nyengir.
“I… Iya…” entah kenapa aku merasa mukaku terbakar. Rupanya Stevanny menyadarinya. Nyengirnya makin lebar.
“Kenapa mukanya merah, Kak…” suaranya pelan, menggoda. Stevanny mendekatkan wajahnya ke arahku, hingga cuma berjarak beberapa senti saja. kontol ku mulai menegang. Aku menelan ludah, memberanikan diri.
“Van…”
“Hm?”
“Kamu… Kamu beneran liat kakak ngaceng waktu itu?” tanyaku gugup.
Stevanny mengangguk, tersenyum.
“Koq bisa gitu, Kak? Sampe setegang itu?”
“Yah… Eh…”
“Apa krn… Punyaku gede?” dia tidak menunggu jawabanku.
“Yah…” Aku mengangguk. “Iya… Jujur, iya…”
“Hmmm…” muka Stevanny memerah. Ia berkata pelan, “Emang segede itu ya?”
“Well… Buat anak seumuran kamu sih gede banget, Van…” kataku. “Kamu tau banyak cowok yg nafsu banget sama punyamu?”
“Iya…” katanya perlahan. “Kakak juga?”
Aku tak dapat menjawab. Aku merasa bersalah. Tapi Stevanny tersenyum.
“Gapapa, Kak…” ujarnya. “Aku gapapa koq kalo kakak yg nafsu… Hehee…”
kontol ku semakin tegak berdiri.
“Be… Bener?” Ia mengangguk. Stevanny menunduk, mengecup pipiku. Payudara nya menekan dadaku. Tepat saat itu tanpa sengaja pantatnya yg empuk menyenggol kontol ku yg sudah sangat tegang. Stevanny melonjak kaget.
“Kak… Kontol kakak tegang lagi…” bisiknya perlahan. Ia berbalik, memunggungiku, menatap tonjolan besar di balik celana pendekku. “Be… Besar banget…”
Saat itu 2 hal bergejolak di dalam diriku: nafsu dan logika. Logikaku berkata aku ini kakaknya, dan se sexy apa pun Stevanny, dia adikku. Tapi nafsuku berkata, Stevanny itu cewek yg luar biasa sexy, yg sedang duduk di atas perutku menghadapi kontol ku yg tegang.
Nafsu memang selalu lebih kuat dari logika.
Aku mendudukkan diri, sehingga Stevanny merosot ke pangkuanku. kontol ku benar-benar terjepit di antara kedua pahanya yg mulus sekarang. Aku merasakan kontol ku berdenyut-denyut tegang.
“Kak…?” bisik Stevanny.
Aku mulai mencium belakang telinganya dengan lembut, kemudian turun ke arah rahang belakangnya. Aku mencium perlahan tapi pasti, sesekali menjulurkan lidahku untuk menjilatnya lembut.
“Hhh… Ka…k…” Stevanny mendesah pelan.
Perlahan, lehernya kulumat. Stevanny menelengkan kepalanya, sehingga dapat dengan cukup mudah aku mencium lehernya. Nafasnya semakin berat.
“Mmhhh… Kak.. Kaakk… G… Ga boleh l…lohh… Mmhh…” desahnya perlahan, memperingatkanku. Aku tak peduli.
Stevanny mulai menggeliat keenakan, membuat kontol ku tergesek pahanya. Bahkan walaupun di dalam celana, aku mulai merasakan nikmatnya seks. Tak tahan, aku menanyakan sesuatu padanya yg mungkin sangat ingin ditanyakan oleh hampir setiap cowok di sekolah.
“Van… Boleh kakak pegang toket kamu?”
Stevanny terdiam. Aku bisa merasakan pertentangan di dalam dirinya. Namun, sekali lagi, nafsu mengalahkan logika. Stevanny mengangguk lambat.
Tak menunggu disuruh dua kali, perlahan-lahan aku menjangkaukan tanganku di bawah ketiaknya, dan dengan lembut aku meremas kedua buah dadanya yg besar dan menggiurkan itu. Sensasi empuk dan bulat penuh memenuhi tanganku yg tak cukup besar untuk meremas buah dadanya secara keseluruhan. Aku bisa merasakan putingnya. Benar dia tidak memakai bra.
“Aahh… Kaak… Mmmhh… Pe… lan.. Pelan…” Stevanny mendesah nikmat. Kedua tangannya mencengkeram erat seprei di ranjangku.
Aku masih menjilati lehernya, kali ini cukup cepat. Kedua tanganku meremas-remas toket nya yg empuk dan besar, yg sudah menjadi kencang krn terangsang. Jari-jariku memainkan putingnya yg sudah tegang dan keras.
“Koq udah keras banget gini, Van?” bisikku menggodanya.
“Mmhh… Abisnya… Mmmhh…”
“Kalo diginiin jadi tambah keras nggak?” Aku menjepit kedua putingnya di antara jari telunjuk dan jempolku, kemudian memelintirnya perlahan-lahan.
“Aaahhh… Aaaahhh… Kaakkk..!!!”
Saat itu aku merasakan kontol ku tersiram sesuatu. Rupanya Stevanny sudah sangat basah sehingga cairannya ikut membasahi kontol ku. Aku meremas dadanya semakin kencang, sambil terus melumat leher dan belakang telinga Stevanny.
“Ooohh… Kakk… Kak.. Kalo gini teruss… Aku… Akku…”
“Kamu kenapaa?” Tangan kananku memainkan putingnya, sementara yg kiri meremas lebih kuat.
“Aku… Aaahhhh… Mmmhh… Kaakk… Mmhh…”
“Kenapa…”
“Ga… gapapa… Ooohh… Ka…k..”
Aku merasakan kontol ku semakin tegang, nafas Stevanny pun semakin tak karuan. Ia menggeliat-geliat keenakan, merangsang kontol ku semakin hebat.
“Van, pegang kontol kakak donk…”
“Mmmhhh… Ga… Ga… Ga bo…leh ah, Kak… Hhhh…”
“Boleehh… Ayo… Gapapa koq…” aku membujuknya.
Ragu-ragu, Stevanny melepaskan cengkeraman tangan kananya, dan meletakkan jari telunjuknya di kepala kontol ku. Rasanya sudah mau kuledakkan saja spermaku saat itu.
“Van, digenggam aja…”
“G… Ga ah kak… Gini aja…. Mmhh…” Ia memainkan jari telunjukknya di sekitar tonjolan di balik celanaku itu. Itu saja cukup, pikirku. Aku meremas dadanya yg besar semakin liar, memainkan putingnya dan menjilati lehernya dengan ganas. Aku mulai menggosok-gosokkan kontol ku ke selangkangannya yg sudah sangat basah.
“Aaahhh… Kaakk… Kak… Aku… Aku bisa.. Aku bisa kelu…arr.. Mmmhhh…”
“Keluarin aja… Mmhhh… Gapapa…” Aku menggerakkan pahaku semakin kuat, rasanya aku sendiri sudah mendekati klimaks. Aku mengeluarkan kontol ku dari celanaku, membuatnya bergeletar liar menggesek selangkangan dan paha Stevanny. Remasanku semakin kencang dan liar. Aku benar-benar sudah mau keluar.
“Kaakkk… Kaakkk… Aku… Aku KELUAR… aaAAHHH… AAHHH!!!”
Slllsssrrrlsshhhhh…. Aku terkejut saat kontol ku tersemprot cairan memek nya. Stevanny orgasme dan squirting, menyemprot kontol ku dengan sangat kuat. Tak butuh waktu lama untukku untuk mencapai giliranku.
“Ooohhh… VAAANNN!!! MMMMHH!!!”
Aku meledakkan spermaku satu, dua, empat, enam kali dalam jumlah besar, melumuri paha dan perutnya, bahkan ada yg menyemprot hingga dada dan wajahnya yg imut.
Stevanny terkulai ke ranjang. Ia terlentang, dadanya yg besar bergerak naik-turun mengatur nafas. Putingnya masih sangat tegang. Aku mengatur nafas. kontol ku masih sangat tegang, mungkin krn hasrat yg sudah kupendam begitu lama untuk merasakan empuknya dada Stevanny yg besar. Aku siap untuk melangkah lebih jauh lagi.
Tapi saat itu logika kembali ke pikiranku. Tidak, batinku. Ini sudah cukup parah buat kakak-adik. Aku melirik Stevanny yg tergeletak lemas, celananya basah kuyup. Paha, perut, dadanya yg besar dan wajahnya berlumuran cairan putih kental milik kakaknya. Aku tersenyum.
“Thanks Van…” bisikku.
“Hhh… Hhh…” Stevanny masih terengah-engah. “I… Hhh… Iya… Sama-sama…”
Aku terdiam, terpaku menatap layar TV.
“Kak…”
“Ya?”
“Jangan lagi ya… Dosa…” bisiknya lemah menegurku.
“Oke…”
Sore itu aku dan Stevanny sedang berada di dalam sebuah toko yg menjual berbagai kartu ucapan di sebuah mall di dekat rumah kita. kita sedang memilih kartu ucapan untuk salah seorang teman Stevanny yg akan berulang tahun sebentar lagi. Sudah sekitar setengah jam kita berputar-putar di antara rak-rak yg memamerkan berbagai macam kartu ucapan yg unik dan lucu, tapi kita masih belum menemukan pilihan yg tepat. Stevanny menarik sebuah kartu bergambar anjing kartun lucu yg sedang mendengarkan iPod dari raknya.
“Kalo yg ini?” tanyanya kepadaku.
“Hmm… Boleh juga, sih…” jawabku. “Bisa diputer-puter, ya?”
“Ya… Lucuu…”
Aku tersenyum, menunduk, mencium ubun-ubun kepalanya. Stevanny mendongak, menatapku sambil tersenyum. Ia menyenderkan kepalanya ke pundakku.
“Luv u, Kak…”
“Luv u too, Van…”
Sambil tetap meletakkan kepalanya di pundakku, ia kembali melihat-lihat kartu bergambar anjing yg ia ambil tadi. Seolah ia telah menentukan pilihannya.
“yg ini aja ya, Kak?”
“Ya… Itu bagus,” jawabku.
Stevanny nyengir manis sekali, kemudian menggandeng tanganku ke arah kasir. Setelah membayar, kita keluar dari toko kartu itu, masih bergandengan tangan. kita benar-benar menikmati jalan-jalan kita petang hari itu; kita berjalan perlahan-lahan, sesekali aku memainkan rambutnya yg pendek-kaku, kemudian menciumnya lembut. Stevanny membalas dengan tusukan nakal jari telunjuknya di pinggangku, bermaksud menggelitikku. kita saling berbagi candaan dan menggoda satu sama lain, berfoto berdua, pokoknya benar-benar menyenangkan.
Yap. Seperti itu lah aku dan Stevanny, adik perempuanku satu-satunya, sekarang. Mesra sekali. Sejak kejadian malam itu (saat Belanda akhirnya melibas pasukan tua Italia 3-0—silakan baca episode 1) kita menjadi sangat dekat. kita memang sudah memiliki hubungan yg baik sebelumnya—kita hampir tidak pernah bertengkar—dan kejadian itu sungguh-sungguh merekatkan kita, layaknya sepasang kekasih.
Sejak kejadian malam itu, kita saling berjanji untuk tidak mengulangi kegilaan seperti itu lagi… Dan kita berhasil! kita menonton pertandingan-pertandingan Euro selanjutnya dengan seru, dan saling menghormati satu sama lain, menyadari status kita sebagai kakak-adik.
Tapi, aku tidak bisa memungkiri bahwa sejak malam itu, Stevanny selalu ada dalam pikiranku. Dan setiap malam, sebelum tidur, bayangannya lah yg muncul di benakku. Aku tahu aku harus menolak pikiran-pikiran itu, tapi hasilnya malah pikiran itu muncul semakin menggila setiap kali aku onani. Setiap kali aku melakukannya, selalu muncul gambar-gambar kejadian malam itu; bagaimana aku meremas dadanya yg empuk dan besar, bagaimana putingnya mengeras, bagaimana pahanya yg mulus menjepit dan menggesek kontol ku, erangan dan desahan nikmatnya, dan tubuhnya yg tergeletak lemas berlumuran spermaku tak pernah bisa kuhapus dari pikiranku. Bayangan itu sungguh efektif dalam merangsangku, begitu efektifnya hingga tak cukup cuma satu kali keluar saat onani untuk memuaskan nafsuku.
Aku tak tahu apa yg Stevanny alami setelah malam itu; apakah dia juga mengalami apa yg aku alami atau tidak, aku tak tahu. yg aku tahu, ia semakin sayang pada kakaknya, dan—jujur saja—ia terlihat semakin sexy sejak malam itu. Seolah dadanya yg besar bertambah besar dan menonjol menggiurkan, tetapi wajahnya yg imut bertambah imut dan polos. Ooh… Paradoks seperti itu sungguh menggairahkan!
“Kaak… Ntar bangunin aku ya kalo udah mulai…”
“Kamu pasang weker juga lah, Van…”
“Udaah… Tapi takutnya ga bangun… Ya?” Cersek Sedarah Ngentot Memek
Stevanny sedang menjulurkan badannya dari balik pintu tembusan antara kamarku dan kamarnya (kamar kita dihubungkan dengan kamar mandi), dan memintaku membangunkannya saat pertandingan bola berlangsung nanti. Pertandingan ini merupakan pertandingan penentuan, dengan Belanda yg telah lolos dari grup maut C, posisi kedua diperebutkan Romania, Italia, dan Prancis. Pemenang laga Italia melawan Prancis akan lolos apabila Belanda berhasil mengalahkan Romania pada laga terakhir. Jika Romania menang, maka Romania-lah yg lolos mendampingi Belanda, tak peduli hasil pertandingan Italia melawan Prancis.
“Oke…” Aku mengangguk, setuju. Aku masih tetap menghadapi komputerku.
Stevanny berjalan ke arahku, memelukku dari belakang, mengecup pipiku.
“Thanks, Kak…” bisiknya lembut.
Aku tersenyum, menoleh menatapnya, dan mencium hidungnya yg mungil. Stevanny mengernyit, tapi nyengir setelahnya. Ia mencium pipiku lagi kemudian berbalik ke arah kamarnya.
Aku mendengar debam pintu ditutup di belakangku. Cepat-cepat aku mengganti screen komputerku. Aku sedang mengetik cerita tentang kejadian beberapa malam yg lalu itu. Aku sudah berjanji pada teman-temanku di melanggar.com/ untuk membagikan cerita ini pada mereka.
Setengah jam berlalu, aku masuk bagian ketiga, bagian yg paling seru. Sambil mengetik, aku membayangkan apa yg kulakukan malam itu dengannya. Kupejamkan mataku… Sama seperti sebelumnya, bayangan-bayangan itu muncul dalam benakku. Jelas sekali… Aku membayangkan tanganku sedang meremas dadanya yg empuk dan sangat besar, memainkan putingnya yg semakin lama semakin mengeras dan menegang menggiurkan. Aku menyenderkan badanku ke kursi, merogohkan tangan ke dalam celanaku. kontol ku sudah mengeras. Pelan-pelan, aku mengocoknya.
Oohh Stevanny toket kamu gede bangeeet siih…
kontol ku semakin tegang dan membesar, kocokanku semakin keras.
Empuuk… Putingnya keras bangett… Hornya,ya Van?
Tanganku bergerak semakin cepat. Bayangan-bayangan semakin jelas.
Oh my God paha kamu ngegesek kontol kakak…
Nafasku semakin cepat.
“Aah…”
Astaga, aku bahkan dapat mendengar suara desahannya dalam benakku.
“Mmmh… Mmm…”
Oh suaranya jelas sekali…
“Mmhh… Ssshhh… Aah…”
Astagaa… Aku akan segera keluaar!!!
Tapi saat itu aku sadar… Bayangan tidak bersuara! Aku membuka mataku, diam terpaku, mendengarkan…
“Mmmhh…”
Samar-samar, dari kamar sebelah, aku bisa mendengar suara desahan tertahan. Stevanny kah? Apa yg sedang dilakukannya?
Mengendap-endap, aku berjingkat ke arah pintu kamar mandiku, yg menghubungkan kamarku dengan kamarnya. Perlahan, sangat perlahan, aku membuka pintu kamar mandiku, berusaha tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
“Aahh… Mmmhhh…”
Desahannya semakin terdengar. Aku menjulurkan kepalaku ke dalam… benar saja; pintu kamar mandi yg menuju ke kamarnya terbuka sedikit. Mungkin Stevanny lupa menguncinya malam ini. Aku berjingkat perlahan ke arah pintu yg terbuka sedikit itu, dan dari celah pintu itu aku mengintip ke dalam kamar adikku.
Lampu kamarnya telah dimatikan, cuma tersisa lampu meja yg menyala oranye redup. Stevanny meringkuk di atas ranjangnya, tubuhnya yg mungil miring ke kanan, menggeliat-geliat pelan. Tangan kanannya merogoh bagian depan celana pendeknya, menjangkau memek dengan tangannya, sementara tangan kirinya meremas salah satu dadanya yg besar menggiurkan itu. Stevanny sedang masturbasi!
“Aahhh… Aaahhh….” desahnya nikmat. Cersek Sedarah Ngentot Memek
Aku terpana. Tidak pernah sebelumnya aku berpikir bahwa adikku yg polos dan imut-imut ini juga memiliki pikiran yg erotis hingga bisa masturbasi. Terdiam sejenak, aku sadar bahwa akulah yg memasukkan pikiran-pikiran seperti itu dalam benaknya. Jika kejadian malam itu tak bisa hilang diingatanku yg telah sering ngentot apalagi cuma petting seperti itu tentunya lebih tidak bisa hilang lagi dalam pikiran Stevanny yg masih polos dan baru pertama kali melakukannya. Tersenyum, aku membalikkan badanku, bermaksud meninggalkan Stevanny dalam fantasinya. Tapi, baru setengah langkahku terangkat, aku mendengar sesuatu yg membuatku tertegun.
“Mmmhh… Kak… Kaak…”
Jantungku serasa berhenti. Astaga! Rupanya aku yg dibayangkannya! Penasaran, aku berbalik, hendak mengintip ke arah kamarnya lagi, melihat apa yg terjadi. Namun, krn gelap, aku menyenggol tempat sampah kamar mandi yg terbuat dari besi, sehingga jatuh berkelontangan.
Tanpa melihat pun, aku tahu Stevanny tertegun di ranjangnya. Hening mencekikku. Aku dilanda kebingungan, berbalik ke kamarku sepelan mungkin, atau membereskan dulu tong sampah itu baru berbalik. Sebelum aku mengambil keputusan, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, lampu menyala. Stevanny berdiri di ambang pintu. Tubuhnya berkeringat, wajahnya yg imut diliputi kecemasan dan terkejut.
“Eh… Kak? Nga… Ngapain?” Stevanny bertanya gugup.
“Hah? Oh? Nggak koq nggak ngapa-ngapain… Eh… Belum tidur?” aku tak kalah gugupnya.
Terdiam. kita membatu di tempat masing-masing, menyadari kejanggalan yg terjadi. Stevanny memberanikan diri bertanya.
“Kakak… Tadi liat aku?”
“Ah? Ah…” Aku gelagapan, tak tahu harus menjawab apa. “Eh, ya… Lebih ke arah denger sih…”
Terdiam lagi.
“Tadi pintunya agak kebuka sedikit…” lanjutku sambil mengangguk ke arah pintu yg menuju kamarnya.
“Oh, ya…”
Terdiam lagi. Suasana ini tidak menyenangkan. Wajah Stevanny merah padam.
“Mm… Kakak… Denger semua?” suara Stevanny sangat pelan hampir berbisik. Aku terdiam, tak mampu menjawab.
“Yah… Ya… Kamu bayangin… Kakak?” tanyaku. Langsung ke sasaran.
“Hah? Eh…” wajahnya tambah merah padam. “Yah… I… Ya gitu deh…”
“Oh ya?” jawabku canggung. Tak tahu melanjutkan ke mana.
“…yg malem itu…” bisik Stevanny.
Aku terdiam. Sudah kuduga ia akan memikirkan apa yg kita buat malam itu. Perasaan bersalah terasa menyakitkan menusuk hatiku. kita terdiam, terpaku di tempat masing-masing, bingung harus melakukan apa selanjutnya.
“Eh… Yah… Yasudah… Kakak tidur dulu?” kataku gugup.
“Hah? Oh… Ya… Oke… Nanti bangunin aku ya…” kata Stevanny, senyum gugup mengembang di bibirnya yg mungil.
Stevanny membantuku membereskan sampah yg sedikit berserakan. Aku tersenyum, mengecup keningnya, kemudian berbalik, hendak kembali ke kamarku, berusaha melupakan apa yg kulihat barusan. Saat itulah Stevanny memelukku dari belakang.
“Kak…” bisiknya.
“Ya?” jawabku, berusaha setenang mungkin.
“Kakak… Juga mikirin yg malem itu?” Stevanny bertanya takut-takut.
Hening.
“Kak?”
“Ya… Iya…”
Hening lagi. Cersek Sedarah Ngentot Memek
“yg pas apa yg kakak bayangin?”
“Heh? Koq nanya kayak gitu?”
Aku mendengarnya tertawa kecil. Stevanny semakin mempererat pelukannya. Dadanya yg empuk menekan punggungku, enak sekali… Aku merasa celana pendekku mulai menyempit.
“Kamu bener-bener kepikiran, ya?” tanyaku. Aku merasakan anggukan kecil kepalanya.
“Pengen… Lagi…” katanya pelan.
“Heh! Katanya waktu itu jangan lagi… Dosa…” jawabku. Aku agak geli.
“Iya… Tapi…”
Aku tersenyum, membalikkan badanku. Stevanny menunduk, terlihat lesu.
“Hei…” sapaku lembut. Kuangkat dagunya perlahan. “Ga baek tau kita gitu… Kan kakak-adek… Waktu itu udah janji juga kan kita ga mau gitu lagi… Ya kan?”
Apa yg kukatakan ini sungguh bertentangan 180 derajat dengan apa yg kurasakan. kontol ku yg menegang serasa berdenyut-denyut di balik celana pendekku. Ingin rasanya aku langsung melumat bibirnya yg mungil itu dan menghujamkan kontol ku ke dalam tubuhnya. Tapi, bagaimana pun, aku kakaknya. Aku tahu itu tidak boleh.
“Iya… Iya sih…” jawabnya, lembut. “Sorry…”
“Hm? Koq sory?”
“Abis… Kan udah janji waktu itu…”
Tidak boleh, dia adikku. Aku terus memberitahu diriku sendiri. Tapi saat itu aku mataku terantuk pada dadanya yg besar menantang. kontol ku semakin mengeras. Aku menggelengkan kepala.
“Kakak nggak pengen lagi?” tanyanya, polos.
Nggak.
“Yah…”
Bilang nggak pengen.
“Eh…” Cersek Sedarah Ngentot Memek
Stop.
“Ya… Yah… Jujur sih… Eh…”
Dia adik lu!
“… Ya pengen sih…” Bagaimana pun aku kalah lagi. Stevanny mendongak, menatapku. Saat itu wajahnya terlihat imut sekali.
“krn toketku?” tanya Stevanny.
“… Iya… Sory…” jawabku lemah.
“Gapapa…” jawabnya. Mukanya merah padam.
“Abis… Gede banget…”
“Segede itu kah?” tanyanya perlahan, kedua tangan mungilnya memegang dadanya, meremasnya, seolah tak percaya bahwa dadanya memang sangat besar.
Aku tak tahan lagi. Kupeluk tubuh mungil Stevanny. Dadanya yg besar menekan dadaku. Aku mencium bibirnya yg mungil, lembut. Stevanny terkejut. Sesaat seolah ia akan meronta melepaskan diri dari pelukanku, namun detik berikutnya ia telah membalas ciumanku.
Ciuman kita bertambah panas. Lidahku perlahan masuk ke dalam mulutnya, memainkan lidahnya. Stevanny cepat belajar rupanya, segera membelit lidahku dengan lidahnya yg mungil. Decak lidah kita terdengar menggiurkan di dalam heningnya malam itu. Tanganku merogoh pantatnya, meremasnya. Baru kali ini aku menyadari pantat Stevanny juga montok dan tebal. Stevanny melepaskan ciuman, mengambil nafas. Benang ludah tipis menghubungkan mulut kita. Sexy sekali. Cersek Sedarah Ngentot Memek
“Di kamar aja yuk?” ajaknya.
Aku mengangguk. Kugendong Stevanny kembali ke kamarnya, kurebahkan tubuh mungilnya di atas ranjangnya. Perlahan, aku merebahkan diri di atas tubuh Stevanny, kembali melumat mulutnya dengan penuh gairah. Tapi saat itu Stevanny terbatuk.
“Kenapa?” tanyaku.
“Uhuek… Kakak berat!” katanya terbatuk. Ia tertawa terbahak-bahak. Tawanya yg renyah justru menambah gairahku. kita berciuman lagi. Nafas kita semakin memburu. Aku menurunkan ciumanku ke rahangnya, kemudian lehernya, perlahan-lahan. Stevanny mencengkeram rambutku.
“Mmhhh… Jilatin leherku, Kak…”
Aku menurutinya. Aku memutar-mutar lidahku di lehernya, kucium perlahan, terus berulang-ulang. Stevanny mengejang.
“Enak?” tanyaku.
“Hmmhh… Iya… Lagi kak…” Stevanny mendesah.
Kali ini, sambil menjilat dan merangsang lehernya terus-menerus, tanganku perlahan meremas dadanya yg seempuk bantal. Rupanya malam ini Stevanny memakai BH, sehingga tanganku tidak langsung menyentuh putingnya. Tapi aku merasakan puting Stevanny telah mengeras seperti malam itu.
“Buka aja kaosnya…” pintanya. Aku mengangguk. Perlahan, aku mengangkat kaos piyama warna pink itu. Stevanny mengangkat kedua lengannya agar bisa kubuka sepenuhnya. Aku tertegun melihat BH warna putih berenda yg dikenakannya. Baru kali ini aku melihat tubuh adikku seperti ini. Dadanya yg besar dan bulat terlihat sangat kesulitan ditahan oleh BH itu. Aku mulai mencium dan menjilat dada Stevanny, sementara tanganku masih tak puas merasakan empuk dan kencangnya. Cersek Sedarah Ngentot Memek
“Emang bener-bener gede, Van…” bisikku. Stevanny cuma tersenyum, menggeliat nikmat. Aku meremas dadanya lagi, ragu-ragu apakah sebaiknya kubuka Bhnya atau tidak. Seolah dapat membaca pikiranku, Stevanny bertanya.
“Mau liat?” tanyanya, menggoda.
Tak menunggu disuruh dua kali, kutarik BH itu ke atas. Dada Stevanny yg besar berguncang menggiurkan saat terbebas dari cengkeraman BHnya. Sungguh besar, bulat dan putih mulus sekali, dengan puting yg masih belum pernah tersentuh tangan pria berwarna coklat muda kemerahan. Benar dugaanku, putingnya telah ereksi setegang-tegangnya. Dada Stevanny benar-benar sempurna.
“Oh my God…” bisikku kagum. “The best…”
“Hehehe… Berisik… Ayo cepet…” katanya.
Aku membenamkan wajahku di antara kedua payudaranya. Empuk, lembut sekali. Sensasi kenyalnya dada Stevanny membuatku sungguh terangsang. Dada Stevanny sungguh penuh membungkus wajahku. Aku bergeser. Jemariku memainkan putingnya yg telah tegak berdiri.
“Aaahh… Kakk… MMhhh…” Stevanny mendesah nikmat. Kujilat dan kusedot puting kanannya, sementara tangan kananku meremas dada kirinya. Kemudian berganti, puting kirinya kusedot dan kujilat perlahan, sementara puting kanannya kumainkan dengan jemariku; kucubit dan kuputar.
“Aaahh… Aaahh… Ka…K… Pelan… Pelaan… Mmmhhh!!”
Aku menyadari Stevanny lebih terangsang saat puting kirinya kujilat. Rupanya Stevanny lebih sensitif di puting kiri.
“Kamu lebih suka di sini ya?” godaku sambil menggigit perlahan puting kirinya. Cersek Sedarah Ngentot Memek
“AAAHH… Aah!! IYA! Ooh… Mmmhhh… Jangan digigiitt… Mm!!” Stevanny mendesah keenakan. Tubuhnya menggeliat-geliat. Tangannya mencengkeram seprei. Sambil melepas celana pendeknya, aku semakin liar memainkan dadanya yg besar menggiurkan. Kuputar-putar lidahku di kedua putingnya bergantian. Stevanny tak tahan.
TAMAT -- INIDEWA


